MANADO, KOMPAS.com - Seorang remaja di Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Sinta Soba (14) nyaris tewas karena berusaha mengakhiri hidup dengan gantung diri, Kamis (22/11/2012). Beruntung tetangganya yang curiga dengan tangisan dari kamar berhasil menggagalkan usaha bunuh diri tersebut.Korban yang tinggal di rumah pamannya ini ditemukan sedang berusaha memasukkan kepalanya dalam seutas tali yang tergantung. Diana Yusuf, tetangga korban yang memorgoki usaha bunuh diri tersebut langsung berusaha mencegahnya dengan membuka tali yang sudah terikat di leher korban.Kuat dugaan korban ingin mengakhiri hidupnya karena merasa tertekan dengan sikap kedua orangtuanya. Sebelumnya siswi kelas 2 SMP ini menuliskan pesan dibuku pelajarannya, yang meminta agar ibunya jangan terlalu menekannya. "Saya ingin bebas seperti anak-anak lainnya," tulis korban.Sementara, di hari yang sama, Roy Rumondor (32) mengakhiri hidupnya dengan cara tragis mengantung diri di kamar kos yang ditempatinya di Ranotana, Kecamatan Wanea, Manado, Kamis (22/11) kemarin. Tubuhnya yang tergantung dengan seutas tali di langit-langit kamar ditemukan oleh rekan satu kostnya dalam kondisi sudah lemas.Curiga dengan kamar yang terkunci dari dalam, Jessy mencoba mendobrak pintu bersama ayah korban yang kebetulan datang. Dalam kondisi sudah lemast korban lalu dibawa ke rumah sakit. Namun nyawanya tidak tertolong lagi dan menghembuskan nafas terakhir beberapa jam sesudah itu.Belum diketahui pasti apa penyebab korban gantung diri. Menurut keterangan Jessy, korban sebelum ini sudah pernah mencoba mengakhiri hidup dengan gantung diri, tapi tidak jadi. Kapolsek Wanea Kompol D Kaunang mengatakan keluarga tidak meminta mayat korban untuk diotopsi karena menganggap korban murni gantung diri.
Blog ini berisi bahan kuliah, syiar Islam, dan informasi seputar perkuliahan yang kami asuh
Kamis, 22 November 2012
Rabu, 31 Oktober 2012
Bahan Materi Kuliah Viktimologi
KOMPAS.com - Penggunaan ponsel pintar atau smartphone di satu sisi memberi begitu banyak manfaat bagi masyarakat. Namun di sisi lain, pemakaian yang tidak tepat juga dapat menimbulkan dampak negatif.
Salah satu yang perlu diwaspadai khususnya para orang tua adalah penggunaan ponsel pintar di kalangan anak-anak dan remaja. Hasil sebuah penelitian awal di luar negeri mengindikasikan, smartphone dapat memicu perilaku seks berisiko. Kalangan remaja kerap menggunakan alat ini untuk mencari pasangan dan di antara mereka cenderung mudah terlibat dalam pergaulan bebas.
Peneliti dari University of Southern California di Los Angeles AS belum lama ini melakukan riset untuk mengetahui sejauh mana penggunaan ponsel pintar di kalangan remaja memengaruhi perilaku seksual. “Kami ingin mengetahui apakah risikonya memang nyata atau hanya sekedar sensasi,” kata Eric Rice, PhD, salah seorang peneliti seperti dikutip WebMD.
Rice bersama timnya mengkaji data survey Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada 2011 yang melibatkan 1.800 pelajar di Los Angeles berusia 12-18. Mereka menanyakan beberapa hal kepada para pelajar termasuk penggunaan internet dalam mencari pasangan, berhubungan seks dengan pasangan, penggunaan kondom, serta pemanfaatan teknologi khususnya smartphone.
Dalam riset terungkap, sekitar sepertiga pelajar menggunakan smartphone yang terhubung langsung ke dunia maya, dan sekitar separuh anak-anak mengaku bahwa mereka aktif secara seksual . Di antara remaja yang tidak menggunakan smartphone, peneliti menemukan hanya sepertiga remaja yang mengaku melakukan hubungan seks.
Riset juga mengungkapkan, 5 persen pelajar SMA menggunakan internet untuk mencari pasangan, dan satu di antara 4 pelajar merambah dunia untuk mendapatkan seks. Mereka yang melakukan pendekatan atau mencari pasangan seks secara online, secara signifikan cenderung melakukan hubungan seks dengan pasangan yang dikenalnya di internet.
"Ini adalah riset yang menarik dan penting, statistiknya memprihatinkan. Kita perlu mendidik para remaja agar waspada dan mencurigai setiap orang asing yang mereka temui di dunia maya,” kata Sophia Yen, MD, spesialis kesehatan remaja dari Stanford University’s Lucile Packard Children’s Hospital, yang tidak terlibat dalam riset ini.
Rice memperkirakan, salah satu alasan tingginya rata-rata aktivitas seksual di kalangan pengguna ponsel pintar adalah kemudahan mendapat akses internet secara pribadi . “Mungkin ada hubungannya dengan akses internet privat dari ponsel mereka. Sedangkan bila dari komputer di rumah, orang tua akan lebih mudah untuk melakukan kontrol,” ujarnya.
Rice juga menyarankan para orang tua untuk lebih banyak melakukan komunikasi dan diskusi dengan anak-anak. Upaya penyuluhan dan edukasi yang dilakukan oleh orang tua, menurut Rice justru akan lebih efektif ketimbang membatasi akses internet secara ketat pada anak dan remaja.
Ia juga menilai, ponsel pintar bukanlah penyebab utama munculnya perilaku berisiko di kalangan anak dan remaja. "Teknologi tidak menciptakan masalah, tetapi memfasilitasi munculnya perilaku,” ujarnya.
Peneliti menyatakan, hasil riset yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Public Health Association ini masih bersifat pendahuluan. Oleh sebab itu perlu penelitian lebih lanjut dan mendalam untuk memastikan dampak ponsel pintar terhadap perilaku seks remaja.
Selasa, 30 Oktober 2012
Berita Terkait Mata Kuliah Viktimologi
BRASILIA, KOMPAS.com — Masih ingat dengan Catarina Migliorini, gadis 20 tahun asal Brasil yang melelang keperawanannya seharga Rp 7,5 miliar lewat internet? Ternyata masalah ini berbuntut panjang hingga melibatkan Pemerintah Brasil.
Pemerintah Brasil kabarnya tengah berupaya menuntut Justin Sisely, sutradara yang membuat film dokumenter soal Catarina dan membantu gadis itu melelang keperawanannya.
Jaksa Agung Brasil, Joao Pedro de Saboia Bandeira de Mello Filho, memerintahkan "penyelidikan secepatnya" terkait lelang keperawanan yang menurut dia tak ubahnya seperti perdagangan manusia itu.
Jaksa Agung Joao Pedro bahkan sudah menyurati Menteri Luar Negeri Brasil yang menegaskan bahwa apa yang dilakukan Justin Sisely itu sama dengan perdagangan manusia sehingga pemberantasannya dijamin perjanjian internasional.
Selain itu, Joao Pedro mengatakan, paspor milik Migliorini—yang saat ini tinggal di Australia—harus dicabut dan dia harus dikembalikan ke Brasil karena yang dilakukannya sama dengan melakukan prostitusi.
Meski demikian, Justin Sisely menganggap yang dia lakukan saat membuat film dokumenter Catarina Migliorini tidak melanggar hukum dan dia sudah memastikan semua yang dilakukannya sesuai dengan peraturan yang ada.
Terlepas dari rencana Jaksa Agung Brasil menuntut Justin Sisely, lalu bagaimana dengan Catarina dan lelang keperawanannya? Ternyata pemenang lelang sudah ditemukan, yaitu seorang lelaki Jepang dengan nama internet "Natsu".
Nah, Catarina dikabarkan akan menyerahkan keperawanannya kepada Natsu di atas pesawat terbang yang bergerak di atas perairan internasional untuk menghindari undang-undang antiprostitusi di sebuah negara.
Senin, 29 Oktober 2012
Materi Pendukung Kuliah Viktimologi
MALANG, KOMPAS.com — Praktik bisnis "ayam kampus" tak hanya terjadi di kota pelajar
Yogyakarta . Di Malang, Jawa Timur, yang memiliki sebutan kota pendidikan juga menjamur
bisnis tersebut. Pelakunya adalah oknum mahasiswi yang kuliah di sejumlah perguruan tinggi,
baik swasta maupun negeri, yang ada di Malang.
Dari pengakuan salah satu pelaku ayam kampus di Malang, ia nekat terjun ke dunia bisnis
esek-esek karena keperawanannya sudah direnggut sejak masih duduk di bangku SMP. Dari
penelusuran Kompas.com, mayoritas umur mahasiswa yang berprofesi ayam kampus berumur
19 hingga 22 tahun.
"Dari teman-teman saya yang masuk ke dunia itu (ayam kampus), mayoritas karena sudah
tidak perawan sejak SMP. Ada yang sejak SMA. Saat pacaran, sang pacar mengajak
berhubungan. Ancaman jika tak mau (berhubungan intim) akan diputus. Terpaksa harus mau
karena saat itu masih cinta monyet," aku DY (20), salah seorang mahasiswi yang ditemui
Kompas.com, di sebuah kafe di Kota Malang, Minggu (28/10/2012) malam.
Sebutan ayam kampus itu sudah menjadi istilah umum bagi para mahasiswi yang menyambi
menjadi pekerja seks komersial (PSK) terselubung.
Menurut DY, sebagian besar ayam kampus di Malang berlatar belakang dari keluarga yang
bermasalah (broken home). Bukan hanya karena faktor impitan ekonomi. "Setahu saya, dari
keluarga mampu semua. Ada yang memang faktor ekonomi, tapi tidak banyak, bahkan jarang.
Itu yang saya kenal," aku DY yang mewanti-wanti namanya tidak ditulis.
Ditanya soal operasi dan cara transaksinya, DY menceritakan, untuk di Malang, trennya sudah
mulai berubah. "Jika awal-awal, asal ada yang 'pesan', harga cocok, siap aja. Tapi tren
sekarang para ayam kampus memilih aman. Yakni 'dipelihara' oleh para om-om atau
pengusaha atau pejabat penting. Kalau pejabat jarang yang dari Malang sendiri, tapi dari luar
Malang," akunya.
Para pejabat, lanjut DY, datang ke Malang biasanya di hari-hari libur akhir pekan. Tinggalnya
di hotel atau di sebuah vila seperti di Kota Batu. "Jika pengusaha tergantung panggilan,"
katanya.
Menurutnya, ayam kampus yang "dipelihara" biasanya dibayar secara bulanan. "Umumnya,
kalau sudah ada yang memelihara, per bulannya minimal Rp 5 juta dan maksimal Rp 10 juta.
Kalau harga sekali 'main' umumnya ayam kampus di Malang dibanderol paling rendah Rp
500.000. Maksimal Rp 1 juta," ujar DY.